eras dan ternak disiapkan dalam benteng untuk menghadapi perang yang
diperkirakan akan berlangsung lama. Semua benteng tersebut terletak di
punggung gunung yang terjal, sehingga sulit dicapai musuh. Beberapa
panglima perang ditugasi memimpin benteng-benteng tersebut.
Singaberanta, misalnya, memimpin benteng Bendulu, sedangkan Radin Inten
II sendiri memimpim benteng Ketimbang.
Melihat munculnya kembali perlawanan di daerah Lampung setelah reda
selama enam belas tahun, pada tahun 1851 Belanda mengirim pasukan dari
Batavia. Pasukan berkekuatan 400 prajurit yang dipimpin oleh Kapten
Jucht ini bertugas merebut benteng Merambung. Akan tetapi, mereka
dipukul mundur oleh pasukan Radin Inten II. Karena gagal merebut
Merambung, Belanda mengubah taktik. Kapten Kohler, Asisten Residen
Belanda di Teluk Betung, ditugasi untuk mengadakan perundingan dengan
Radin Inten II.
Setelah berkali – kali mengadakan perundingan, akhirnya dicapai
perjanjian untuk tidak saling menyerang. Belanda mengakui eksistensi
Negara Ratu. Raden Inten II pun mengakui kekuasaan Belanda di tempat –
tempat yang sudah mereka duduki. Perjanjian itu digunakan Belanda hanya
sebagai taktik menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan besar –
besaran. Bagi mereka dengan cara apa pun, Raden Inten II harus
ditundukan.
Belanda yakin, selama Radin Inten II masih berkuasa, kedudukan mereka
di Lampung akan tetap terancam. Namun, sebelum memulai
serangan-serangan baru, Belanda berusaha memecah belah masyarakat
Lampung. Kelompok yang satu diadu dengan kelompok yang lain. Di kalangan
masyarakat ditimbulkan suasana saling mencurigai. Tugas itu
dipercayakan kepada Kapten Kohler. Di beberapa tempat usahanya berhasil.
Pemuka – pemuka masyarakat Kalianda, misalnya, termakan hasutan untuk
memusuhi Radin Inten II, sehingga mereka tidak menghalang – halangi
pasukan Belanda berpatroli di sekitar Gunung Rajabasa.
Pada tanggal 10 Agustus 1856 pasukan Belanda diberangkatkan dari
Batavia dengan beberapa kapal perang. Pasukan ini dipimpin oleh Kolonel
Welson dan terdiri atas pasukan infanteri, artileri dan zeni disertai
sejumlah besar kuli pengangkut barang. Esok harinya mereka mendarat di
dermaga Canti. Kekuatan mereka bertambah dengan bergabungnya pasukan
Pangeran Sempurna Jaya Putih, bangsawan Lampung yang sudah memihak
Belanda.
Iring – iringan kapal perang Belanda yang memasuki perairan Lampung
ini dilihat oleh Singaberanta dari Benteng Bendulu. Ia segera mengirim
kurir ke Benteng Ketimbang untuk memberitahukan hal itu kepada Radin
Inten II yang selanjutnya memerintahkan pasukannya di benteng-benteng
lain agar menyiapkan diri.
Belanda mengirim ultimatum kepada Radin Inten II agar paling lambat
dalam waktu lima hari, ia dan seluruh pasukannya menyerahkan diri. Bila
tidak, Belanda akan melancarkan serangan. Singaberanta pun dikirimi
surat yang mengajaknya untuk berdamai. Sambil menunggu jawaban dari
Radin Inten II dan Singaberanta, pasukan Belanda mengadakan konsolidasi.
Radin Inten II pun meningkatkan persiapannya.
Benteng-benteng diperkuat. Beberapa orang kepercayaannya
diperintahkan memasuki daerah-daerah yang sudah dikuasai Belanda untuk
menganjurkan penduduk di tempat tersebut agar mengadakan perlawanan.
Sampai batas waktu ultimatum berakhir, baik Radin Inten II maupun
Singaberanta tidak memberikan jawaban.
Maka, pada tanggal 16 Agustus 1856 pasukan Belanda pun mulai
melancarkan serangan. Sasaran mereka hari itu ialah merebut Benteng
Bendulu. Pukul 08.00 mereka sudah tiba di Bendulu setelah menempuh jarak
setapak di punggung gunung yang cukup terjal. Akan tetapi, mereka
menemukan benteng itu dalam keadaan kosong. Singaberanta sudah
memindahkan pasukannya ke tempat lain. Ia dengan sengaja menghindari
perang terbuka, sebab yakin bahwa pasukan lawan yang dihadapinya jauh
lebih kuat. Pasukannya disebar di tempat-tempat yang cukup tersembunyi
dengan tugas melakukan pencegatan terhadap patroli pasukan Belanda yang
keluar benteng. Sesudah menduduki Benteng Bendulu, sebagian pasukan
Belanda bergerak ke benteng Hawi Berak yang dapat mereka kuasai pada
tanggal 19 Agustus. Bersambung ke bagian II…
apakah ada perlawanan lain selain antara ayah dan anak?
BalasHapus